Selasa, 15 November 2011

INFORMASI SUMBER DAYA LAHAN




Dalam rangka reformasi pertanian yang berkelanjutan banyak faktor beserta interaksinya yang patut dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah keadaan lingkungan, sumber daya lahan, perubahan agroklimat, dan sosial ekonomi. Penilaian produktivitas lahan memerlukan pengetahuan mengenal jenis tanah, penyebarannya, dan masukan yang diperlukan untuk mengatasi dan meningkatkan produktivitasnya, serta tanggapannya terhadap penerapan teknologi (Widjaja Adhi, 1989).
Pengetahuan mengenai sumber daya lahan telah disadari perlunya perencanaan terutama untuk pengembangan pertanian, tetapi informasi data sumber daya lahan jarang digunakan secara efektif. Hal-hal tersebut perlu ditelaah dalam usaha meningkatkan sumbangan penelitian sumber daya lahan untuk pengembangan pertanian secara berkelanjutan.
Saat ini data base tentang tanah sedang digarap dan unit informasi tanah sehingga memudahkan dan mempercepat pelayanan informasi tanah. Pada tingkat nasional sasaran utama penelitian informasi data tanah adalah untuk, (1) menentukan wilayah yang memungkinkan keuntungan biotik dan sosial ekonomi yang tertinggi untuk suatu komoditi; (2) memilih komoditi yang memberikan keuntungan biotik dan sosial ekonomi untuk suatu wilayah; dan (3) meneliti cara peningkatan dan pelestarian produktivitas suatu komoditi di suatu wilayah. Kesemuanya itu merupakan pendekatan dasar dari sistem pembangunan pertanian yang berazaskan keterpaduan komoditi, wilayah dan usahatani.
Banyak penelitian sumber daya lahan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi, baik dalam maupun diluar Badan Litbang, baik pemerintah swasta nasional maupun swasta asing. Hasilnya tersebar di berbagai departemen seperti Perhubungan, Pekerjaan Umum, Kehutanan dan Departemen Pertanian. Untuk membangun suatu data base tanah dan untuk menghindari pengulangan kegiatan, informsasi sumber daya lahan perlu dikumpulkan. Pengumpulan informasi berupa laporan dari berbagai instansi memerlukan data dan waktu, serta kerjasama dari semua pihak yang terkait.
Di samping itu survai tanah di Indonesia telah dilaksanakan pada berbagai tingkat skala metode dan berbagai metode untuk berbagai tujuan penggunaan. “Streamline” pendekatan pendekatan yang berbeda diperlukan untuk memudahkan dalam penafsirannya. Pada tingkat tinjauan pendekatan melalui “land system” akan terus dikembangkan, sedangkan pada tingkat survai detail adalah pendekatan seri tanah atau “frase” yang ada terus dikembangkan. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Litbang Pertanian sedang membangun suatu unit data base tanah, dan menginterpretasikan data atau informasi tanah dan lahan dari daerah survai pemetaan.
Kegiatan ini merupakan salah satu komponen “Project Implementation Unit” (PIU) dari “Land Resource Evaluation and PlanningProject (LREPP), yang telah dikelola oleh Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Unit data base tanah dilengkapi perangkat lunak LECS atau pogram serupa atau yang dikembangkan dari LECS. Diharapkan pula perangkat lunak lain, seperti analisa sistem atau model simulasi dan sistem pakar, dapat memanfaatkan data base tanah ini. Untuk itu diperlukan komponen penunjang, yaitu suatu sistem pengelolaan data base.
Di phak lain, sistem pakar (expert system) dinilai sangat bermanfaat dalam perencanaan praktis pada tingkat petani. Sistem ini dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi pengapuran misalnya pemberian amelioran, pemupukan, pengaturan irigasi serta pengawetan dan pengelolaan tanah dan air. Suatu sistem yang dapat membantu petani menentukan rekomendasi kebutuhan kapur yang telah dikembangkan. Kemampuan sistem pakar terletak pada kemampuannya mencakup pengetahuan yang tidak saja diketahui para pakar tetapi juga penalaran atau “common sense” petani. Dengan menyaring pengetahuan para pakar ke dalam aturan-aturan yang berkaitan, para perakit pengetahuan dapat menuangkannya ke sistem pakar. Sistem ini memungkinkan para penyuluh pertanian lapangan mendapat rekomendasi suatu masalah tertentu untuk suatu lokasi dan pada keadaan khusus.

Konsep evaluasi dan kesesuaian lahan

Evaluasi lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah teruji. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan sesuai dengan keperluan. Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian lahan aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial).
Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberikan masukanmasukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala. Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan. Lahan yang dievaluasi dapat berupa hutan konversi, lahan terlantar atau tidak produktif, atau lahan pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan tetapi masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai.

Klasifikasi kesesuaian lahan

Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka FAO (1976) dapat dibedakan menurut tingkatannya, yaitu tingkat Ordo, Kelas, Subkelas dan Unit. Ordo adalah keadaan kesesuaian lahan secara global. Pada tingkat ordo kesesuaian lahan dibedakan antara lahan yang tergolong sesuai (S=Suitable) dan lahan yang tidak sesuai (N=Not Suitable). Kelas adalah keadaan tingkat kesesuaian dalam tingkat ordo. Berdasarkan tingkat detail data yang tersedia pada masing-masing skala pemetaan, kelas kesesuaian lahan dibedakan menjadi: (1) Untuk pemetaan tingkat semi detail (skala 1:25.000-1:50.000) pada tingkat kelas, lahan yang tergolong ordo sesuai (S) dibedakan ke dalam tiga kelas, yaitu: lahan sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3). Sedangkan lahan yang tergolong ordo tidak sesuai (N) tidak dibedakan ke dalam kelas-kelas. (2) Untuk pemetaan tingkat tinjau (skala 1:100.000-1:250.000) pada tingkat kelas dibedakan atas Kelas sesuai (S), sesuai bersyarat (CS) dan tidak sesuai (N).

Kelas S1          Sangat Sesuai : Lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata terhadap penggunaan secara berkelanjutan, atau faktor pembatas bersifat minor dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan secara nyata.
Kelas S2          Cukup Sesuai: Lahan mempunyai faktor pembatas, dan factor pembatas ini akan berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan (input). Pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri.
Kelas S3          Sesuai Marginal: Lahan mempunyai faktor pembatas yang berat, dan faktor pembatas ini akan sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi factor pembatas pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya bantuan atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta.
Kelas N           Lahan tidak sesuai yang karena mempunyai faktor pembatas yang sangat berat dan/atau sulit diatasi.


EVALUASI LAHAN
Pengertian Dasar
Dalam melaksanakan evaluasi lahan perlu terlebih dahulu memahami istilah-istilah yang digunakan, baik yang menyangkut keadaan sumber daya lahan, maupun yang berkaitan dengan kebutuhan atau persyaratan tumbuh suatu tanaman. Berikut diuraikan secara ringkas mengenai: pengertian lahan, penggunaan lahan, karakteristik lahan, kualitas lahan, dan persyaratan penggunaan lahan.
Lahan
Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO, 1976). Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas flora, fauna dan manusia baik di masa lalu maupun saat sekarang, seperti lahan rawa dan pasang surut yang telah direklamasi atau tindakan konservasi tanah pada suatu lahan tertentu.Penggunaan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan dalam penggunaan lahan sesuai dengan karakteristik dan kualitas lahannya, bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan secara lestari dan berkesinambungan.Pada peta tanah atau peta sumber daya lahan, hal tersebut dinyatakan dalam satuan peta yang dibedakan berdasarkan perbedaan sifat-sifatnya terdiri atas: iklim, landform (termasuk litologi, topografi/relief), tanah dan/atau hidrologi. Pemisahan satuan lahan/tanah sangat penting untuk keperluan analisis dan interpretasi potensi atau kesesuaian lahan bagi suatu tipe penggunaan lahan (Land Utilization Types = LUTs).Evaluasi lahan memerlukan sifat-sifat fisik lingkungan suatu wilayah yang dirinci ke dalam kualitas lahan (land qualities), dan setiap kualitas lahan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). Beberapa karakteristik lahan umumnya mempunyai hubungan satu sama lainnya di dalam pengertian kualitas lahan dan akan berpengaruh terhadap jenis penggunaan dan/atau pertumbuhan tanaman dan komoditas lainnya yang berbasis lahan (peternakan, perikanan, kehutanan).

Penggunaan lahan
Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas: penggunaan lahan semusim, tahunan, dan permanen. Penggunaan lahan tanaman semusim diutamakan untuk tanaman musiman yang dalam polanya dapat dengan rotasi atau tumpang sari dan panen dilakukan setiap musim dengan periode biasanya kurang dari setahun. Penggunaan lahan tanaman tahunan merupakan penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya dilakukan setelah hasil tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi, seperti pada tanaman perkebunan. Penggunaan lahan permanen diarahkan pada lahan yang tidak diusahakan untuk pertanian, seperti hutan, daerah konservasi, perkotaan, desa dan sarananya, lapangan terbang, dan pelabuhan.Dalam Juknis ini penggunaan lahan untuk keperluan evaluasi diarahkan pada: kelompok tanaman pangan (serealia, umbi-umbian, dan kacang-kacangan), kelompok tanaman hortikultura (sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias), kelompok tanaman industri/perkebunan, kelompok tanaman rempah dan obat, kelompok tanaman hijauan pakan ternak, dan perikanan air payau. Seluruhnya ada 112 jenis komoditas pertanian yang dapat dilihat pada Lampiran 1 sampai Lampiran 6.Dalam evaluasi lahan penggunaan lahan harus dikaitkan dengan tipe penggunaan lahan (Land Utilization Type) yaitu jenis-jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detil karena menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Setiap jenis penggunaan lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. Tipe penggunaan lahan bukan merupakan tingkat kategori dari klasifikasi penggunaan lahan, tetapi mengacu kepada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya dibawah kategori penggunaan lahan secara umum, karena berkaitan dengan aspek masukan, teknologi, dan keluarannya.Sifat-sifat penggunaan lahan mencakup data dan/atau asumsi yang berkaitan dengan aspek hasil, orientasi pasar, intensitas modal, buruh, sumber tenaga, pengetahuan teknologi penggunaan lahan, kebutuhan infrastruktur, ukuran dan bentuk penguasaan lahan, pemilikan lahan dan tingkat pendapatan per unit produksi atau unit areal. Tipe penggunaan lahan menurut sistem dan modelnya dibedakan atas dua macam yaitu multiple dan compound.Multiple: Tipe penggunaan lahan yang tergolong multiple terdiri lebih dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu areal yang sama dari sebidang lahan. Setiap penggunaan memerlukan masukan dan kebutuhan, serta memberikan hasil tersendiri. Sebagai contoh kelapa ditanam secara bersamaan dengan kakao atau kopi di areal yang sama pada sebidang lahan. Demikian juga yang umum dilakukan secara diversifikasi antara tanaman cengkih dengan vanili atau pisang.Compound: Tipe penggunaan lahan yang tergolong compound terdiri lebih dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan pada areal-areal dari sebidang lahan yang untuk tujuan evaluasi diberlakukan sebagai unit tunggal. Perbedaan jenis penggunaan bisa terjadi pada suatu sekuen atau urutan waktu, dalam hal ini ditanam secara rotasi atau secara serentak, tetapi pada areal yang berbeda pada sebidang lahan yang dikelola dalam unit organisasi yang sama. Sebagai contoh suatu perkebunan besar sebagian areal secara terpisah (satu blok/petak) digunakan untuk tanaman karet, dan blok/petak lainnya untuk kelapa sawit. Kedua komoditas ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama.
Karakteristik lahan
Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi. Dari beberapa pustaka menunjukkan bahwa penggunaan karakteristik lahan untuk keperluan evaluasi lahan bervariasi. Sebagai gambaran Tabel 1 menunjukkan variasi dari karakteristik lahan yang digunakan sebagai parameter dalam evaluasi kesesuaian lahan oleh beberapa sumber (Staf PPT, 1983; Bunting, 1981; Sys et al., 1993; CSR/FAO, 1983; dan Driessen, 1971).
Tabel 1. Karakteristik lahan yang digunakan sebagai parameter dalam evaluasi lahan.
Staf PPT (1983)
Bunting (1981)
Sys et al. (1993)
CSR/FAO (1983)
Driessen (1971)
Tipe hujan (Oldeman et al.)
Periode pertumbuhan tanaman
Temperatur rerata (°C) atau elevasi
Temperatur rerata (°C) atau elevasi
Lereng
Kelas drainase
Temperatur rerata pada periode pertumbuhan
Curah hujan (mm)
Curah hujan (mm)
Mikrorelief
Sebaran besar butir (lapisan atas)
Curah hujan tahunan
Lamanya masa kering (bulan)
Lamanya masa kering (bulan)
Keadaan batu
Kedalaman efektif
Kelas drainase
Kelembaban udara
Kelembaban udara
Kelas drainase
Ketebalan gambut
Tekstur tanah
Kelas Drainase
Kelas drainase
Regim kelembaban
Dekomposisi gambut/jenis gambut
Kedalaman perakaran
Tekstur/Struktur
Tekstur
Salinitas/ alkalinitas
KTK
Reaksi tanah (pH)
Bahan kasar
Bahan kasar
Kejenuhan basa
Kejenuhan basa
Salinitas/ DHL
Kedalaman tanah
Kedalaman tanah
Reaksi tanah (pH)
Reaksi tanah (pH)
Pengambilan hara (N, P, K) oleh tanaman
KTK liat
Ketebalan gambut
Kadar pirit
C-organik
Pengurasan hara (N, P, K) dari tanah
Kejenuhan basa
Kematangan gambut
Kadar bahan organik
P-tersedia

Reaksi tanah (pH)
KTK liat
Tebal bahan organik
Salinitas/DHL

C-organik
Kejenuhan basa
Tekstur
Kedalaman pirit

Aluminium
Reaksi tanah (pH)
Struktur, porositas, dan tingkatan
Lereng (%)/mikrorelief

Salinitas/DHL
C-organik
Macam liat
Erosi

Alkalinitas
Aluminium
Bahan induk/ cadangan mineral
Kerusakan karena banjir

Lereng
Salinitas/DHL
Kedalaman efektif
Batu dan kerikil, penghambat pengolahan tanah

Genangan
Alkalinitas

Pori air tersedia

Batuan di permukaan
Kadar pirit

Penghambat pertumbuhan karena kekurangan air

CaCO3
Lereng

Kesuburan tanah

Gypsum
Bahaya erosi

Permeabilitas lapisan atas

Jumlah basa total
Genangan




Batuan di permukaan




Singkapan batuan

Karakteristik lahan yang digunakan pada Juknis ini adalah: temperatur udara, curah hujan, lamanya masa kering, kelembaban udara, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman tanah, ketebalan gambut, kematangan gambut, kapasitas tukar kation liat, kejenuhan basa, pH H20, C-organik, salinitas, alkalinitas, kedalaman bahan sulfidik, lereng, bahaya erosi, genangan, batuan di permukaan, dan singkapan batuan.
temperatur udara:
merupakan temperatur udara tahunan dan dinyatakan dalam °C
curah hujan:
merupakan curah hujan rerata tahunan dan dinyatakan dalam mm
lamanya masa kering:
merupakan jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun dengan jumlah curah hujan kurang dari 60 mm
kelembaban udara:
merupakan kelembaban udara rerata tahunan dan dinyatakan dalam %
drainase:
merupakan pengaruh laju perkolasi air ke dalam tanah terhadap aerasi udara dalam tanah
tekstur:
menyatakan istilah dalam distribusi partikel tanah halus dengan ukuran <2 mm
bahan kasar:
menyatakan volume dalam % dan adanya bahan kasar dengan ukuran >2 mm
kedalaman tanah:
menyatakan dalamnya lapisan tanah dalam cm yang dapat dipakai untuk perkembangan perakaran dari tanaman yang dievaluasi
ketebalan gambut:
digunakan pada tanah gambut dan menyatakan tebalnya lapisan gambut dalam cm dari permukaan
kematangan gambut:
digunakan pada tanah gambut dan menyatakan tingkat kandungan seratnya dalam bahan saprik, hemik atau fibrik, makin banyak seratnya menunjukkan belum matang/mentah (fibrik)
KTK liat:
menyatakan kapasitas tukar kation dari fraksi liat
kejenuhan basa:
jumlah basa-basa (NH4OAc) yang ada dalam 100 g contoh tanah.
reaksi tanah (pH):
nilai pH tanah di lapangan. Pada lahan kering dinyatakan dengan data laboratorium atau pengukuran lapangan, sedang pada tanah basah diukur di lapangan
C-organik:
kandungan karbon organik tanah.
salinitas:
kandungan garam terlarut pada tanah yang dicerminkan oleh daya hantar listrik.
alkalinitas:
kandungan natrium dapat ditukar
kedalaman bahan sulfidik:
dalamnya bahan sulfidik diukur dari permukaan tanah sampai batas atas lapisan sulfidik.
lereng:
menyatakan kemiringan lahan diukur dalam %
bahaya erosi:
bahaya erosi diprediksi dengan memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion), erosi alur (reel erosion), dan erosi parit (gully erosion), atau dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) per tahun
genangan:
jumlah lamanya genangan dalam bulan selama satu tahun
batuan di permukaan:
volume batuan (dalam %) yang ada di permukaan tanah/lapisan olah
singkapan batuan:
volume batuan (dalam %) yang ada dalam solum tanah
sumber air tawar:
tersedianya air tawar untuk keperluan tambak guna mempertahankan pH dan salinitas air tertentu
amplitudo pasang-surut:
perbedaan permukaan air pada waktu pasang dan surut (dalam meter)
oksigen:
ketersediaan oksigen dalam tanah untuk keperluan pertumbuhan tanaman/ikan
Setiap satuan peta lahan/tanah yang dihasilkan dari kegiatan survei dan/atau pemetaan sumber daya lahan, karakteristik lahan dapat dirinci dan diuraikan yang mencakup keadaan fisik lingkungan dan tanahnya. Data tersebut digunakan untuk keperluan interpretasi dan evaluasi lahan bagi komoditas tertentu.Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluasi ada yang sifatnya tunggal dan ada yang sifatnya lebih dari satu karena mempunyai interaksi satu sama lainnya. Karenanya dalam interpretasi perlu mempertimbangkan atau memperbandingkan lahan dengan penggunaannya dalam pengertian kualitas lahan. Sebagai contoh ketersediaan air sebagai kualitas lahan ditentukan dari bulan kering dan curah hujan rata-rata tahunan, tetapi air yang dapat diserap tanaman tentu tergantung pula pada kualitas lahan lainnya, seperti kondisi atau media perakaran, antara lain tekstur tanah dan kedalaman zone perakaran tanaman yang bersangkutan.

Kualitas lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan (FAO, 1976).Dalam evaluasi lahan sering kualitas lahan tidak digunakan tetapi langsung menggunakan karakteristik lahan (Driessen, 1971; Staf PPT, 1983), karena keduanya dianggap sama nilainya dalam evaluasi. Metode evaluasi yang menggunakan kualitas lahan antara lain dikemukakan pada CSR/FAO (1983), FAO (1983), Sys et al. (1993) (lihat Tabel2).

Tabel 2. Kualitas lahan yang dipakai pada metode evaluasi lahan menurut CSR/FAO (1983), FAO (1983), dan Sys et al. (1993).
CSR/FAO, 1983
FAO, 1983
Sys et.al., 1993
Temperatur
Kelembaban
Sifat iklim
Ketersediaan air
Ketersediaan hara
Topografi
Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen
Kelembaban
Media perakaran
Media untuk perkembangan akar
Sifat fisik tanah
Retensi hara
Kondisi untuk pertumbuhan
Sifat kesuburan tanah
Toksisitas
Kemudahan diolah
Salinitas/alkalinitas
Sodisitas
Salinitas dan alkalinitas/ toksisitas

Bahaya sulfidik
Retensi terhadap erosi

Bahaya erosi
Bahaya banjir

Penyiapan lahan
Temperatur


Energi radiasi dan fotoperiode


Bahaya unsur iklim (angin, kekeringan)


Kelembaban udara Periode kering untuk pemasakan (ripening) tanaman

Kualitas lahan dapat berperan positif atau negatif terhadap penggunaan lahan tergantung dari sifat-sifatnya. Kualitas lahan yang berperan positif sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat negatif akan merugikan (merupakan kendala) terhadap penggunaan tertentu, sehingga merupakan faktor penghambat atau pembatas. Setiap kualitas lahan dapat berpengaruh terhadap satu atau lebih dari jenis penggunaannya. Demikian pula satu jenis penggunaan lahan tertentu akan dipengaruhi oleh berbagai kualitas lahan.Sebagai contoh bahaya erosi dipengaruhi oleh: keadaan sifat tanah, terrain (lereng) dan ikim (curah hujan). Ketersediaan air bagi kebutuhan tanaman dipengaruhi antara lain oleh: faktor iklim, topografi, drainase, tekstur, struktur, dan konsistensi tanah, zone perakaran, dan bahan kasar (batu, kerikil) di dalam penampang tanah.Kualitas lahan yang menentukan dan berpengaruh terhadap manajemen dan masukan yang diperlukan adalah:
  • Terrain berpengaruh terhadap mekanisasi dan/atau pengelolaan lahan secara praktis (teras, tanaman sela/alley cropping, dan sebagainya), konstruksi dan pemeliharaan jalan penghubung.
  • Ukuran dari unit potensial manajemen atau blok area/lahan pertanian.
  • Lokasi dalam hubungannya untuk penyediaan sarana produksi (input), dan pemasaran hasil (aspek ekonomi).
Dalam Juknis ini kualitas lahan yang dipilih sebagai berikut: temperatur, ketersediaan air, ketersediaan oksigen, media perakaran, bahan kasar, gambut, retensi hara, toksisitas, salinitas, bahaya sulfidik, bahaya erosi, bahaya banjir, dan penyiapan lahan.
temperatur:
ditentukan oleh keadaan temperatur rerata
ketersediaan air :
ditentukan oleh keadaan curah hujan, kelembaban, lama masa kering, sumber air tawar, atau amplitudo pasangsurut, tergantung jenis komoditasnya
ketersediaan oksigen :
ditentukan oleh keadaan drainase atau oksigen tergantung jenis komoditasnya
media perakaran :
ditentukan oleh keadaan tekstur, bahan kasar dan kedalaman tanah
gambut:
ditentukan oleh kedalaman dan kematangan gambut
retensi hara :
ditentukan oleh KTK-liat, kejenuhan basa, pH-H20, dan C-organik
bahaya keracunan :
ditentukan oleh salinitas, alkalinitas, dan kedalaman sulfidik atau pirit (FeS2)
bahaya erosi :
ditentukan oleh lereng dan bahaya erosi
bahaya banjir :
ditentukan oleh genangan
penyiapan lahan :
ditentukan oleh batuan di permukaan dan singkapan batuan
Fasilitas yang berkaitan dengan aspek ekonomi merupakan penentu kesesuaian lahan secara ekonomi atau economy land suitability class (Rossiter, 1995). Hal ini dengan pertimbangan bagaimanapun potensialnya secara fisik suatu wilayah, tanpa ditunjang oleh sarana ekonomi yang memadai, tidak akan banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan wilayah tersebut. Evaluasi Lahan dari aspek ekonomi tidak dibahas dalam Juknis ini.
Persyaratan penggunaan lahan
Semua jenis komoditas pertanian termasuk tanaman pertanian, peternakan, dan perikanan yang berbasis lahan untuk dapat tumbuh atau hidup dan berproduksi optimal memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi, persyaratan penggunaan lahan dikaitkan dengan kualitas lahan dan karakteristik lahan yang telah dibahas. Persyaratan karakteristik lahan untuk masing-masing komoditas pertanian umumnya berbeda, tetapi ada sebagian yang sama sesuai dengan persyaratan tumbuh komoditas pertanian tersebut.
Persyaratan tersebut terutama terdiri atas energi radiasi, temperatur, kelembaban, oksigen, dan hara. Persyaratan temperatur dan kelembaban umumnya digabungkan, dan selanjutnya disebut sebagai periode pertumbuhan (FAO, 1983). Persyaratan lain berupa media perakaran, ditentukan oleh drainase, tekstur, struktur dan konsistensi tanah, serta kedalaman efektif (tempat perakaran berkembang). Ada tanaman yang memerlukan drainase terhambat seperti padi sawah. Tetapi pada umumnya tanaman menghendaki drainase yang baik, dimana pada kondisi demikian aerasi tanah cukup baik, sehingga di dalam tanah cukup tersedia oksigen, dengan demikian akar tanaman dapat berkembang dengan baik, dan mampu menyerap unsur hara secara optimal.
Persyaratan tumbuh atau persyaratan penggunaan lahan yang diperlukan oleh masing-masing komoditas mempunyai batas kisaran minimum, optimum, dan maksimum untuk masing-masing karakteristik lahan. Kisaran tersebut untuk masing-masing komoditas pertanian dapat dilihat pada Lampiran 1 - 6.
Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman atau penggunaan lahan merupakan batasan bagi kelas kesesuaian lahan yang paling sesuai (S1). Sedangkan kualitas lahan yang di bawah optimum merupakan batasan kelas kesesuaian lahan antara kelas yang cukup sesuai (S2), dan/atau sesuai marginal (S3). Di luar batasan tersebut merupakan lahan-lahan yang secara fisik tergolong tidak sesuai (N).



PROSEDUR EVALUASI LAHAN

Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau sumber daya lahan lainnya, melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan untuk suatu tujuan penggunaan tertentu. Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat pemetaan tanah, maka dalam evaluasi lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya lahan lainnya, sesuai dengan tingkat dan skala pemetaannya.
Pendekatan
Dalam evaluasi lahan ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh mulai dari tahap konsultasi awal (initial consultation) sampai kepada klasifikasi kesesuaian lahan (FAO, 1976). Kedua pendekatan itu adalah: 1) pendekatan dua tahapan (two stage approach); dan 2) pendekatan paralel (parallel approach).
Pendekatan dua tahapan
Pendekatan dua tahap terdiri atas tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik, dan tahap kedua evaluasi lahan secara ekonomi. Pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam inventarisasi sumber daya lahan baik untuk tujuan perencanaan makro, maupun untuk studi pengujian potensi produksi (FAO, 1976).
Klasifikasi kesesuaian tahap pertama didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang telah diseleksi sejak awal kegiatan survei, seperti untuk tegalan (arable land) atau sawah dan perkebunan. Konstribusi dari analisis sosial ekonomi terhadap tahap pertama terbatas hanya untuk mencek jenis penggunaan lahan yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam bentuk laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera ditindak lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan sosialnya.

Pendekatan paralel
Dalam pendekatan paralel kegiatan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi dilakukan bersamaan (paralel), atau dengan kata lain analisis ekonomi dan sosial dari jenis penggunaan lahan dilakukan secara serempak bersamaan dengan pengujian faktor-faktor fisik. Cara seperti ini umumnya menguntungkan untuk suatu acuan yang spesifik dalam kaitannya dengan proyek pengembangan lahan pada tingkat semi detil dan detil. Melalui pendekatan paralel ini diharapkan dapat memberi hasil yang lebih pasti dalam waktu yang singkat.

Penyiapan Data
Untuk melakukan evaluasi lahan baik dengan menggunakan pendekatan dua tahapan maupun pendekatan paralel perlu didahului dengan konsultasi awal. Konsultasi awal ini untuk menentukan tujuan dari evaluasi yang akan dilakukan, data apa yang diperlukan dan asumsi-asumsinya yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam penilaian. Evaluasi lahan yang akan dilakukan tergantung dari tujuannya yang harus didukung oleh ketersediaan data dan informasi sumber daya lahan.Urutan kegiatan dalam melaksanakan evaluasi lahan dapat dilihat pada Gambar 1.
Pelaksanaan Evaluasi lahan dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: tingkat tinjau skala 1:250.000 atau lebih kecil; semi detil skala 1:25.000 sampai 50.000; dan detil skala 10.000 sampai 25.000 atau lebih besar. Jenis, jumlah, dan kualitas data yang dihasilkan dari ketiga tingkat pemetaan tersebut bervariasi, sehingga penyajian hasil evaluasi lahan ditetapkan sebagai berikut: pada tingkat tinjau dinyatakan dalam ordo, tingkat semi detil dalam kelas/subkelas, dan pada tingkat detil dinyatakan dalam subkelas/subunit. Petunjuk Teknis ini disarankan dipakai terutama untuk tingkat pemetaan semi detil.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching) data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan, pengelolaan dan konservasi. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk 112 jenis komoditas pertanian yang berbasis lahan disajikan pada Lampiran 1–6. Pada proses matching hukum minimum dipakai untuk menentukan faktor pembatas yang akan menentukan kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Dalam penilaian kesesuaian lahan perlu ditetapkan dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan potensial). Keadaan potensial dicapai setelah dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement = I) terhadap masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial.

Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan
Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang akan diterapkan. Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana), sedang, atau tinggi.
Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan masukan teknologi tinggi, tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah. Demikian pula dalam hal penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat (mekanik). Sebagai contoh penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik. Kasus serupa dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng. Pada lereng lebih besar dari 8% jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian kalau diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana.
Asumsi dapat dibedakan terutama atas dua hal: (1) yang menyangkut areal proyek; dan (2) yang menyangkut pelaksanaan evaluasi/interpretasi serta waktu berlakunya dari hasil evaluasi lahan.Beberapa contoh asumsi yang ditetapkan untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik adalah sebagai berikut:
  • Data tanah yang digunakan hanya terbatas pada informasi atau data dari satuan lahan atau satuan peta tanah.
  • Reliabilitas data yang tersedia: rendah, sedang, tinggi
  • Lokasi penelitian atau daerah survei
  • Kependudukan tidak dipertimbangkan dalam evaluasi
  • Infrastruktur dan aksesibilitas serta fasilitas pemerintah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
  • Tingkat pengelolaan atau manajemen dibedakan atas 3 tingkatan yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
  • Pemilikan tanah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
  • Pemasaran hasil produksi serta harga jual tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
  • Evaluasi lahan dilaksanakan secara kualitatif, kuantitatif fisik atau kuantitatif ekonomi.
  • Usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan dengan tingkat pengelolaannya.
  • Aspek ekonomi hanya dipertimbangkan secara garis besar.

INFORMASI PARAMETER UNTUK EVALUASI LAHAN

Bab ini mengemukakan karakteristik tanah atau lahan dan cara memprediksi data secara praktis di lapangan maupun kriteria pengelompokannya. Karakteristik tanah/lahan yang dipakai sebagai parameter dalam evaluasi lahan tersebut antara lain: temperatur udara, drainase, tekstur, alkalinitas, bahaya erosi, dan banjir/genangan.


Estimasi temperatur berdasarkan ketinggian tempat (elevasi)
Di tempat-tempat yang tidak tersedia data temperatur (stasiun iklim terbatas), maka temperatur udara dapat diduga berdasarkan ketinggian tempat (elevasi) dari atas permukaan laut. Pendugaan tersebut dengan menggunakan pendekatan rumus dari Braak (1928) dalam Mohr et al. (1972). Berdasarkan hasil penelitiannya di Indonesia temperatur di dataran rendah (pantai) berkisar antara 25-27ºC, dan rumus yang dapat digunakan (rumus Braak) adalah sebagai berikut:
26,3°C - (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6°C)
Berdasarkan penelitian Braak tersebut temperatur tanah pada kedalaman 50 cm di Indonesia lebih tinggi 3-4,5ºC, sehingga untuk menduga temperatur tanah pada kedalaman 50 cm, maka rerata temperatur udara ditambah sekitar 3,5ºC. Tetapi menurut Wambeke et al. (1986) temperatur tanah lebih tinggi 2,5ºC dari temperatur udara. Hasil pendugaan temperatur dan ditambah perbedaan temperatur udara dan temperatur tanah tersebut digunakan untuk menentukan rejim temperatur tanah seperti yang ditetapkan dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1992; 1998).

Drainase tanah
Kelas drainase tanah dibedakan dalam 7 kelas sebagai berikut:
  1. Cepat (excessively drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan daya menahan air rendah. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi).
  2. Agak cepat (somewhat excessively drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi).
  3. Baik (well drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang, lembab, tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai = 100 cm.
  4. Agak baik (moderately well drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air rendah, tanah basah dekat ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai = 50 cm.
  5. Agak terhambat (somewhat poorly drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air rendah sampai sangat rendah, tanah basah sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai =25 cm.
  6. Terhambat (poorly drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air rendah sampai sangat rendah, tanah basah untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besi dan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan.
  7. Sangat terhambat (very poorly drained), tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air sangat rendah, tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan.

Tekstur
Tekstur adalah merupakan gabungan komposisi fraksi tanah halus (diameter =2 mm) yaitu pasir, debu dan liat. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel3.
Tabel 3. Menentukan kelas tekstur di lapangan
No
Tekstur
Sifat Tanah
1.
Pasir (S)
Sangat kasar sekali, tidak membentuk bola dan gulungan, serta tidak melekat.
2.
Pasir berlempung (LS)
Sangat kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak melekat.
3.
Lempung berpasir (SL)
Agak kasar, membentuk bola agak kuat tapi mudah hancur, serta agak melekat.
4
Lempung (L)
Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, dan melekat.
5
Lempung berdebu (SiL)
Licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta agak melekat.
6
Debu (Si)
Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta agak melekat.
7
Lempung berliat (CL)
Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk gulungan tapi mudah hancur, serta agak melekat.
8
Lempung liat berpasir (SCL)
Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk gulungan tetapi mudah hancur, serta melekat.
9
Lempung liat berdebu (SiCL)
Rasa licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat, melekat.
10
Liat berpasir (SC)
Rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah digulung, serta melekat.
11
Liat berdebu (SiC)
Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah digulung, serta melekat.
12
Liat (C)
Rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, basah sangat melekat.

Pengelompokan kelas tekstur yang digunakan pada Juknis ini adalah:
Halus (h)
Liat berpasir, liat, liat berdebu
Agak halus (ah)
Lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu
Sedang (s)
Lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu
Agak kasar (ak)
Lempung berpasir
Kasar (k)
Pasir, pasir berlempung
Sangat halus (sh)
Liat (tipe mineral liat 2:1)

Bahan kasar
Bahan kasar adalah merupakan modifier tekstur yang ditentukan oleh jumlah persentasi kerikil, kerakal, atau batuan pada setiap lapisan tanah, dibedakan menjadi:
sedikit
< 15%
sedang
15 - 35%
banyak
35 - 60%%
sangat banyak
> 60%

Kedalaman tanah
Kedalaman tanah, dibedakan menjadi:
sangat dangkal
< 20 cm
dangkal
20 - 50 cm
sedang
50 – 75 cm
dalam
> 75 cm
Ketebalan gambut
Ketebalan gambut, dibedakan menjadi:
tipis
< 60 cm
sedang
60 - 100 cm
agak tebal
100 – 200 cm
tebal
200 - 400 cm
sangat tebal
> 400 cm
Saprik+, hemik+, fibrik+ = saprik/ hemik/ fibrik dengan sisisipan/ pengkayaan bahan mineral.

Alkalinitas
Menggunakan nilai exchangeable sodium percentage atau ESP (%) yaitu dengan perhitungan
ESP = Na dapat tukar x 100KTK tanah
Nilai ESP 15% adalah sebanding dengan nilai sodium adsorption ratio atau SAR 13

Bahaya erosi
Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan keadaan lapangan, yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion), erosi alur (reel erosion), dan erosi parit (gully erosion). Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun, dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relatif mengandung bahan organik yang cukup banyak. Tingkat bahaya erosi tersebut disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Tingkat bahaya erosi
Tingkat bahaya erosi Jumlah tanah permukaan yang hilang (cm/tahun)
Sangat ringan (sr)
< 0,15
Ringan (r)
0,15 - 0,9
Sedang (s)
0,9 - 1,8
Berat (b)
1,8 - 4,8
Sangat berat (sb)
> 4,8

Bahaya banjir/genangan
Banjir ditetapkan sebagai kombinasi pengaruh dari: kedalaman banjir (X) dan lamanya banjir (Y). Kedua data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan penduduk setempat di lapangan.
No
Kedalaman banjir (X)
Lamanya banjir (Y):
1.
< 25 cm
1. < 1 bulan
2.
25 - 50 cm
2. 1 - 3 bulan
3.
50 - 150 cm
3. 3 - 6 bulan
4.
> 150 cm.
4. > 6 bulan.
Bahaya banjir diberi simbol Fx, y. (dimana X adalah simbol kedalaman air genangan, dan Y adalah lamanya banjir). Kelas bahaya banjir tersebut disajikan dalam Tabel 5.
Tabel 5. Kelas bahaya banjir
Simbol Kelas bahaya banjir Kelas bahaya banjir berdasarkan kombinasi kedalaman dan lamanya banjir (F x,y)
Simbol
Kelas bahaya banjir
Kelas bahaya banjir berdasarkan kombinasi kedalaman dan lamanya banjir (F x,y)
F0
Tanpa
-
F1
Ringan
F1.1, F2.1, F3.1
F2
Sedang
F1.2, F2.2, F3.2, F4.1
F3
Agak berat
F1.3, F2.3, F3.3
F4
Berat
F1.4, F2.4, F3.4, F4,2, F4.3, F4.4




CONTOH EVALUASI LAHAN
Penilaian Kesesuaian Lahan
Pada bab ini diberikan contoh penilaian kesesuaian lahan menurut tingkat pemetaannya, yaitu untuk evaluasi lahan pada tingkat semi detil. Berikut ini adalah data tanah dan lingkungan fisik hasil dari identifikasi dan karakterisasi tingkat semi detil skala 1:50.000 di daerah Lombok (Puslittanak, 1990).
No Satuan Peta Tanah : 30 Satuan tanah : Assosiasi seri Santong dan seri Bukit Semboja

Seri Santong
Seri Bukit Semboja
- Temperatur udara rata-ratatahunan
22°C
22°C
- Bulan kering (<100 mm/bln)
6-9 bulan
6-9 bulan
- Curah hujan tahunan
1.550 mm/th
1.550 mm/th
- Drainase tanah
sedang
agak cepat
- Tekstur tanah
Lempung berpasir
Lempung liatberpasir
- Kedalaman efektif
sedang (50 cm)
sangat dalam (>150 cm)
- Gambut: - kematangan
bukan gambut
bukan gambut
- ketebalan
-
-
- KTK tanah
12 me/100 g(rendah)
23 me/100 g (sedang)
- pH
6,0
6,1
- N total
0,21%
0,21%
- P2O5 tersedia
49 ppm
20 ppm
- K2O tersedia
70 ppm
125 ppm
- Periode banjir
tidak pernah
tidak pernah
- Frekuensi
-
-
- Salinitas
-
-
- Kejenuhan aluminium
24%
3.2%
- Kedalaman pirit
-
-
- Struktur
tanpa
gumpal
- Konsistensi
tidak lekat
agak lekat
- Kemiringan lahan
8 - 15%
8 - 15%
- Batu di permukaan
0%
0%
- Singkapan batuan(rock outcrops)
0%
0%
- Total bahaya erosi
sedang
sedang
Hasil evaluasi lahan dinyatakan dalam kondisi aktual (kesesuaian lahan aktual) dan kondisi potensial (kesesuaian lahan potensial), seperti disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Penilaian kesesuaian lahan jagung varietas Harapan pada tanah seri Santong.
Persyaratan penggunaan lahan/karakteristik lahan
Kelas kesesuaian lahan
Nilai data
Kelas kes. lahan aktual
Usaha perbaikan
Kelas kes. lahan potensial
Temperatur (tc)

S1

S 1
Temperatur rerata (°C)
22
S 1

S 1
Ketersediaan air (wa)

S 2

S 2
Curah hujan tahunan (mm)
1.550
S 2

S 2
Kelembaban (%)
80
S 1

S 1
Ketersediaan oksigen (oa)

S 2

S 2
Drainase
sedang
S 2

S 2
Media perakaran (rc)

S 3

S 3
Tekstur
lempung berpasir
S 3

S 3
Bahan kasar (%)
< 5
S 1

S 1
Kedalaman tanah (cm)
55
S 2

S 2
Gambut:

S 1

S 1
Ketebalan (cm)
0
S 1

S 1
Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan




Kematangan




Retensi hara (nr)

S 2

S 1
KTK liat (cmol (+)/kg )
12
S 2
*
S 1
Kejenuhan basa (%)
45
S 2
*
S 1
pH H2O
6,0
S 1

S 1
C-organik (%)
0,8
S 1

S 1
Toksisitas (xc)




Salinitas (dS/m)




Sodisitas (xn)




Alkalinitas/ESP (%)




Bahaya sulfidik (xs)




Kedalaman sulfidik (cm)




Bahaya erosi (eh)

S 2

S 2
Lereng (%)
8 -15
S 2

S 2
Bahaya erosi
sedang
S 2

S 2
Bahaya banjir (fh)

S 1

S 1
Genangan
tidak pernah
S 1

S 1
Penyiapan lahan (lp)

S 1

S 1
Batuan di permukaan (%)
0
S 1

S 1
Singkapan batuan (%)
0
S 1

S 1
Kelas kesesuaian lahan
Aktual (A)
S 3
Potensial (P)
S 3
Keterangan: * Usaha perbaikan dapat dilakukan, kelas kesesuaian lahan naik satu tingkat

Dari contoh pada Tabel 6, terlihat bahwa usaha perbaikan untuk menaikan kelas kesesuaian lahan tidak dapat dilakukan karena faktor pembatas paling minimum adalah tekstur (lempung berpasir). Hasil evaluasi lahan akhir adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Penilaian kesesuaian lahan jagung varietas Harapan pada tanah seri Bukit Semboja
Persyaratan penggunaan lahan/karakteristik lahan
Kelas kesesuaian lahan
Nilai data
Kelas kes. lahan aktual
Usaha perbaikan
Kelas kes. lahan potensial
Temperatur (tc)

S1

S 1
Temperatur rerata (°C)
22
S 1

S 1
Ketersediaan air (wa)

S 2

S 2
Curah Hujan tahunan (mm)
1550
S 2

S 2
Kelembaban (%)
80
S 1

S 1
Ketersediaan oksigen (oa)

S 2

S 2
Drainase
agak cepat
S 2

S 2
Media perakaran (rc)

S 1

S 1
Tekstur
lempung liat berpasir
S 1

S 1
Bahan kasar (%)
< 5
S 1

S 1
Kedalaman tanah (cm)
150
S 1

S 1
Gambut:

S 1

S 1
Ketebalan (cm)
0
S 1

S 1
Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan




Kematangan




Retensi hara (nr)

S 3

S 2
KTK liat (cmol (+)/kg )
23
S 1

S 1
Kejenuhan basa (%)
30
S 3
*
S 2
pH H2O
6,1
S 1

S 1
C-organik (%)
0,8
S 1

S 1
Toksisitas (xc)




Salinitas (dS/m)




Sodisitas (xn)




Alkalinitas/ESP (%)




Bahaya sulfidik (xs)




Kedalaman sulfidik (cm)




Bahaya erosi (eh)

S 2

S 2
Lereng (%)
8 -15
S 2

S 2
Bahaya erosi
sedang
S 2

S 2
Bahaya banjir (fh)

S 1

S 1
Genangan
tidak pernah
S 1

S 1
Penyiapan lahan (lp)

S 1

S 1
Batuan di permukaan (%)
0
S 1

S 1
Singkapan batuan (%)
0
S 1

S 1
Kelas kesesuaian lahan
Aktual
S 3
Potensial
S 2
Keterangan: * Usaha perbaikan dapat dilakukan, kelas kesesuaian lahan naik satu tingkat




***SEKIAN DAN TERIMA KASIH***
semoga bermanfaat...
DAFTAR PUSTAKA


Sitorus, Santun. 1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung : Tarsito


5 komentar:

  1. seiring perkembangan zaman ....

    Gurun pasir di IRAN dan ARAB SAUDI menjadi sebuah taman yang indah permai,,
    berarti seiring berjalan nya waktu konsep kesesuaian lahan dapat di katakan Terbantah kan oleh rekayasa genetik tumbuhan yang di sesuaikan oleh lahan....

    Menrut pndapat Anda bgaimna????

    Mengapa tanah gambut yang seyogya nya memiliki fungsi ideal sbg tanaman bakau tapi akibat proses pengkapuran menyebab kan tanah tersebut dapat di tanami oleh Sawit...

    sesuaikah penggunaan lahan tersebut...

    BalasHapus
  2. Perencanaan Pengembangan Wilayah @untuk pertanyaan pertama :cek dulu teorinya bos.....



    untuk pertanyaan kedua:

    Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tetumbuhan yang setengah membusuk; oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut dalam bahasa Inggris sebagai peat; dan lahan-lahan bergambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor, muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain. Istilah gambut sendiri diserap dari bahasa daerah Banjar.

    Gambut terbentuk tatkala bagian-bagian tumbuhan yang luruh terhambat pembusukannya, biasanya di lahan-lahan berawa, karena kadar keasaman yang tinggi atau kondisi anaerob di perairan setempat. Tidak mengherankan jika sebagian besar tanah gambut tersusun dari serpih dan kepingan sisa tumbuhan, daun, ranting, pepagan, bahkan kayu-kayu besar, yang belum sepenuhnya membusuk. Kadang-kadang ditemukan pula, karena ketiadaan oksigen bersifat menghambat dekomposisi, sisa-sisa bangkai binatang dan serangga yang turut terawetkan di dalam lapisan-lapisan gambut.

    berbicara tentang sesuai atau tidaknya,...

    Kelapa sawit sendiri dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Tanah gambut juga dapat di tanami kelapa sawit asalkan ketebalan gambutnya tidak lebih dari satu metter dan sudah tua (saphrik).
    Tanah yang sering mengalami genanganair umumnya tidak disukai tanaman kelapa sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek dapat menghambat kelancaran penyerapan unsure hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan unsure nitrogen (N). karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang.


    terkait dengan itu, di lihat dari fungsi ekologis tanah gambut...
    *Jumlah karbon yang tersimpan di tanah gambut jauh lebih besar dari karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah yaitu pada vegetasi. Hutan rawa gambut secara alami berfungsi sebagai simpanan karbon, dimana jumlah karbon yang disimpan jauh lebih besar dari jumlah yang dilepaskan. Namun, akibat aktivitas perkebunan kelapa sawit yang mengkonversi hutan telah membalikkan fungsinya menjadi pelepas karbon yang sangat besar sebagai akibat dari degradasi (drainase gambut, kebakaran dan oksidasi).

    sebenar nya sangat banyak fungsi ekologis dari gambut tersebut, tetapi pihak2 yang terkait di dalam peng-konversian hutan gambut tersebut tidak memikirkan nilai dan fungsi ekologis dari hutan gambut tersebut, mereka hanya melihat dari segi ekonomisnya doank..., untuk kepentingan pribadi yang tidak memikirkan dampak dalam jangka waktu yang panjang...

    thanks.....

    BalasHapus
  3. OK mantap juga>>>
    tp tnggu tgl mainnya

    BalasHapus
  4. Merkur 37C Safety Razor Review – Merkur 37C
    The Merkur 37c is an https://deccasino.com/review/merit-casino/ excellent short handled DE safety kadangpintar razor. https://octcasino.com/ It is more suitable for both heavy and non-slip hands and is therefore a great septcasino option for experienced

    BalasHapus