1.Pendahuluan.
A. Pengertian Cacing Tanah.
Terdapat sekitar 3000 spesies cacing tanah, tetapi yang cocok dipelihara hanya setengahnya. Setiap jenis cacing tanah memiliki fungsi yang berbeda. Sebagai contoh adalah untuk keperluan pengomposan digunakan cacing tanah dari spesies Eisenia foetida. Cacing jenis ini memiliki kemampuan mengomposkan sampah lebih baik dari pada spesies yang lain (Missouri Department of Natural Resources, 1997). Saat ini cacing tanah telah dinobatkan sebagai hewan multiguna antara lain sebagai bahan baku produk farmasi dan kosmetik.
Cacing tanah dikenal sebagai hewan penyubur tanah. Dalam proses makan mereka mengeluarkan kotoran berbentuk pelet.- pelet ini diselimuti lapisan gel yang menyatukan pelet-pelet menjadi satu kesatuan. Pelet tidak hanya mengubah unsur hara ke bentuk yang mudah diserap akar, tetapi juga berefek slow release. Artinya, unsur hara dilepas secara perlahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Cacing juga memecah bahan organik menjaadi bagian yang lebih kecil. Dengan demikian mikroba tanah memiliki ruang lebih luas untuk aktivitasnya. Mereka juga memproduksi enzim yang mengefektifkan kerja bakteri. Sehingga cacing menyebabkan proses dekomposisi menjadi lebih cepat (Untung, 1999).
B.Pengertian Tanah Oksisol.
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai har atau nutrisi ( senyawa porganik dan anorganik sederhana dan unsur unur esensial seperti N, P,K,Ca, Mg, S, CU, Zn, Fe, Mn, B, Cl dan lain-lain ), dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota ( organisme ) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif ( pemacu tumbuh, proteksi ) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk mengehasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industry perkebunan, maupun kehutanan ( Kemas A.H. 2007 ).
Tanah oksisol adalah tanah dengan pelapukan lanjut dan mempunyai horison oksik, yaitu horison dengan kandungan mineral mudah lapuk rendah, fraksi liat dengan aktivitas rendah, kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 16 cmol (+) / kg liat). Tanah ini juga mempunyai batas-batas horison yang tidak jelas. Pembukaan areal pertanian khususnya tanaman pangan di lahan kering ditujukanpada jenis tanah Podsolik Merah Kuning yang menempati 31,7 juta hektar (23,5%) dariluas tanah masam (Leiwakabessy, 1988). Pengembangan tanaman padi ke lahan tersebutdihadapkan pada kendala fisiko-kimia seperti kemasaman tanah (pH 3,5-5,5), kahat hara makro dan mikro, kandungan bahan organik rendah, tingkat kejenuhan Al tinggi, dansangat peka terhadap erosi (Roesmarkam et al., 1992; Sanchez, 1992). Oleh sebab itu.
pengembangan areal pertanian khususnya tanaman pangan hanya diarahkan pada lahan dengan tingkat kemiringan kurang dari 15%..Dari hasil-hasil penelitian padi di lahan kering masam, umumnya pada pH kurang dari 5,5 ketersediaan unsur kalsium (Ca) dan fosfor (P) rendah dan akan muncul masalah keracunan Al. Pada pH 3,5-4,5 sumber utama kemasaman adalah Aldd (Al3+ yang dapat ditukar). Sumber kemasaman terdiri dari Aldd, ion hidroksida dan Hdd (Widjaja-Adhi,1985).
Al terutama ditemukan dalam bentuk oktahedral hexahidrat (Al (H2O) 63+) yang secara konvensional dikenal sebagai ion Al3+ dan sangat berbahaya bagi pertumbuhan akar dan tanaman.
Padi termasuk tanaman yang rentan terhadap keracunan Al. Tingginya kandungan Al berpengaruh buruk terutama terhadap sistem perakaran yang meliputi pertumbuhan akar terhambat, pendek, tebal, percabangan tidak normal, tudung akar rusak dan berwarna coklat atau merah (Ismunadji dan Partohardjono, 1985). Pada tanaman sorghum, pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman pendek, ukuran daun lebih kecil dan berwarna hijau gelap dengan pinggiran daun keunguan atau menjadi kering (Hadiatmi, 2002).
Batas kritis kejenuhan Al di tanah masam oksisol dan Ultisol bervariasi antar spesies yaitu 70% untuk padi, 55% untuk kacang uci, 29% untuk jagung, 28% untuk kacang tanah, 15% untuk kedelai dan 5% untuk kacang hijau (Arief, 1990). Selain itu juga dilaporkan bahwa konsentrasi Al 3 ppm dalam larutan tanah, dapat merusak varietas padi yang rentan terhadap keracunan Al. Sedangkan pada konsentrasi 10 ppm, semua varietas baik yang rentan maupun yang tahan mengalami kerusakan (IRRI, 1979). Pada gandum konsentrasi Al 50 ppm telah menghambat pertumbuhan akar (Rincon dan Gonzales, 1992), pada kedelai konsentrasi Al pada 8 ppm telah menghambat pertumbuhan akar kultivar rentan (Sapra et al., 1982).
C. Pengertian Kascing.
Hasil biodegradasi bahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah dinamakan kascing/vermicompost (Untung, 1999). Kascing tampak seperti tanah kering yang telah digiling dan secara nyata meningkatkan kesuburan tanah (Praswati dan Hidayat, 1992). Menurut Waluyo (1993), komposisi hara kascing yang berasal dari sampah organik adalah 1,60% N-total; 14,79% C-organik; 0,02% P-total; 2,46% Ca; 0,59% Mg; 4,49% karbohidrat; 0,08% lemak; 24,86% protein. Persentase unsur hara pada kascing ini berbeda tergantung dari media dan jenis pakan yang diberikan kepada cacing. Selain mengandung unsur hara tersebut, kascing juga mengandung zat pengatur tumbuh seperti giberelin, sitokinin, auksin masing-masing sebanyak 2,75; 1,05; 3,80 miliequivalen tiap gram bobot kering. Selain itu juga ditemukan sejumlah mikroba yang bersifat menguntungkan bagi tanaman (Tomatti.Grappeli dan Galli, 1998).
Kascing merupakan pupuk organik yang mengandung fitohormon,mikroba dan unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
Kascing sebagai pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan dapat mempertahankan kestabilan dan aerasi tanah.Selain mengandung unsur hara utama (N, P, K, Mg dan Ca), Kascing juga banyak mengandung mikroba Azotobacter sp. Dengan demikian Kascing dapat meningkatkan kesuburan tanah (Zahid, 1994).
Dengan pemberian Kascing maka diasumsikan mineral dan mikroorganisme yang dapat menyuburkan tanah bertambah sehingga dengan adanya kandungan hara yang tinggi disertai fitohormon tinggi tanaman dapat tumbuh lebih baik dan pertumbuhan vegetatif akan lebih baik pula. Menurut para ahli tanaman yang diberi fitohormon mendorong ukuran tanaman menjadi lebih tinggi karena terjadi pembelahan sel yang lebih banyak dan pengembangan jaringan meristem pada ujung batang dan pada interkalar yang lebih baik.
Kascing sebagai pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan dapat mempertahankan kestabilan dan aerasi tanah.Selain mengandung unsur hara utama (N, P, K, Mg dan Ca), Kascing juga banyak mengandung mikroba Azotobacter sp. Dengan demikian Kascing dapat meningkatkan kesuburan tanah (Zahid, 1994).
Dengan pemberian Kascing maka diasumsikan mineral dan mikroorganisme yang dapat menyuburkan tanah bertambah sehingga dengan adanya kandungan hara yang tinggi disertai fitohormon tinggi tanaman dapat tumbuh lebih baik dan pertumbuhan vegetatif akan lebih baik pula. Menurut para ahli tanaman yang diberi fitohormon mendorong ukuran tanaman menjadi lebih tinggi karena terjadi pembelahan sel yang lebih banyak dan pengembangan jaringan meristem pada ujung batang dan pada interkalar yang lebih baik.
Kelebihan Pupuk kascing :
Peningkatan pertumbuhan: Pengujian yang ekstensif sudah dilakukan oleh Ohio State University , Cornell University , UC Davis di Amerika, dan Australia SIRO untuk membuktikan hasil dari penggunaan Pupuk Kascing. Pengujian -pengujian tersebut menunjukan peningkatan ukuran bunga, jumlah bunga, kualitas, dan warna. Pengujian pada buah dan sayuran menunjukkan peningkatan dari 15%-57% termasuk peningkatan pada rasa dan bentuk/penampilan.
100% Organik: Komunitas agro sudah menunjukan dukungan terhadap gerakan untuk menuju pertanian non-kimia. Pupuk Kascing sudah dikenal sejak riset Charles Darwin sebagai cara terbaik untuk penyuburan tanah dan tanaman yang sehat.
Tidak Beracun: Semua bahaya yang ditakutkan pada penggunaan pertanian kimia tidak ada pada Pupuk Kascing, karena memang tidak mengandung racun sama sekali.
Tidak panas: karena Pupuk Kascing adalah 100% organik maka tidak mengandung garam yang ditemukan di pupuk sintetik, yang berarti menghilangkan kemungkinan merusak tanaman.
Bebas bau: Pupuk Kascing adalah satu-satunya kotoran hewan yang tidak berbau. Pupuk Kascing berbau seperti tanah sehat yang subur.
Tidak Beracun: Semua bahaya yang ditakutkan pada penggunaan pertanian kimia tidak ada pada Pupuk Kascing, karena memang tidak mengandung racun sama sekali.
Tidak panas: karena Pupuk Kascing adalah 100% organik maka tidak mengandung garam yang ditemukan di pupuk sintetik, yang berarti menghilangkan kemungkinan merusak tanaman.
Bebas bau: Pupuk Kascing adalah satu-satunya kotoran hewan yang tidak berbau. Pupuk Kascing berbau seperti tanah sehat yang subur.
Penghilang bau: Pengujian menunjukan bahwa Pupuk Kascing sangat efektif dan cepat dalam menghilangkan bau. Campurkan 20% Pupuk Kascing dengan kotoran sapi, kuda, maupun ayam yang sudah dikomposkan, maka semua bau akan hilang dalam delapan jam.
Penghilang jamur: Riset dan pengujian yang dilakukan empat universitas besar di Amerika sudah menunjukkan bahwa biologi makanan tanah yang terkandung dalam Pupuk Kascing akan dengan cepat mengontrol problem jamur. Dalam beberapa minggu, pada tanaman yang mempunyai masalah dengan jamur akan menunjukkan perbaikan yang permanen. Semua jamur tanah dengan cepat akan terkontrol. Nitrogen yang dilepaskan pada waktu proses ini juga akan membantu dalam pertumbuhan tanaman.
Penghilang jamur: Riset dan pengujian yang dilakukan empat universitas besar di Amerika sudah menunjukkan bahwa biologi makanan tanah yang terkandung dalam Pupuk Kascing akan dengan cepat mengontrol problem jamur. Dalam beberapa minggu, pada tanaman yang mempunyai masalah dengan jamur akan menunjukkan perbaikan yang permanen. Semua jamur tanah dengan cepat akan terkontrol. Nitrogen yang dilepaskan pada waktu proses ini juga akan membantu dalam pertumbuhan tanaman.
Bio-pestisida: Pengujian juga menunjukkan bahwa mikro-organisme yang dikandung dalam Pupuk Kascing men-stimulasi organisme pada tanaman yang bekerja sebagai pencegah berbagai jenis serangga dengan meningkatkan enzim chitinase. Juga sebagai pencegahan terhadap semut.
C.Kandungan Dalam Daun Ubi.
Daun ubi kayu mengandung protein tinggi yaitu berkisar antara 20,6 – 34,4% (Djamaludin, 1994). Namun, daun ubi kayu mengandung serat kasar yang tinggi yang membatasi penggunaannya sebagai bahan pakan unggas.
Daun ubi kayu mengandung serat kasar sebesar 25,71% (Sudaryanto, 1994). Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengurangi kadar serat kasar dalam daun ubi kayu untuk memperbaiki nilai gizinya. Daun ubi kayu dapat ditingkatkan nilai gizinya melalui fermentasi, karena fermentasi dapat meningkatkan kecernaan protein, menurunkan kadar serat kasar, memperbaiki rasa dan aroma bahan pakan, serta menurunkan kadar logam berat
D.Prosedur Kerja.
Langkah Kerja.
Bahan : - Media Cacing (8:1) terdiri dari sekam kayu,pupuk kandang sapi dan sedikit pupuk kandang ayam (sebanyak 2 kg).Bibit cacing tanah Lumbrius Rubulus ¼ kg.
- Baki plastic yang tidak berlubang
- Rak-rak kayu
- Karung Plastik
- Alat Pengaduk
- Timbangan
- Karton Penutup Baki
Prosedur Kerja :
1.Menyediakan tempat dalam bentuk rak-rak yang diletakkan di dalam ruangan yang bias masuk udara terbuka,bias di rumah ataupun di bawah pohon besar.
2.Menyiapkan wadah tempat pembiakan cacing.
3.Menyediakan media cacing (sekam kayu.pupuk kandang sapi + pupuk kandang ayam).Media dihancurkan jangan berbengkah sampai homogeny kemudian diaduk rata ke 3 bahan dan ditambah air.
4.Masukkan ke dalam karung plastic di ikat dan ditutup rapat dengan tali lalu dibiarkan 1-2 minggu sampai berubah menjadi hitam (inkubasi selama 20 hari) dan setelah inkubasi karung dibuka.
5.Bila sudah jadi hitam masukkan ke baki sampai sekitar 1 cm dari permukaan.Timbang baki + media,diambil bibit cacing ¼ kg.Media dibagi beberapa dan dibuat lubang lalu dimasukkan bibit cacing dan ditutup lagi tapi jangan terlalu dalam kemudian disiram sedikti dengan air.
6.Taruh di rak-rak dan sebaiknya jangan terbuka agar penguapan lambat.
7.Dibiarkan dan dipelihara dengan pemberian makanan dengan jumlah seberat cacing tersebut.
8.Pemberian makanan dibagi 2 yaitu pemberian makanan daun ubi dan kangkung.
9.Sayuran tak boleh langsung diberikan tetapi harus dibersihkan terlebih dahulu kemudian dicuci bersih lalu direbus sampai matang.Disiapkan sehari sebelum diberikan kepada cacing.
10.Panen dilakukan setelah 3 minggu waktu pemeliharaan.
2.Hasil Dan Pembahasan.
A.Hasil.
Data Hasil Analisis Tanah
Perlakuan | Parameter | |||||
| Ph | N(%) | P(ppm) | K+ (me/100g) | Ca+ (me/100g) | Mg+ (me/100g) |
A | 5,71 | 0,56 | 9,38 | 2,07 | 11,28 | 2,02 |
B | 6,05 | 0,35 | 6,43 | 1,82 | 8,36 | 1,98 |
C | 4,55 | 0,15 | 3,84 | 0,82 | 3,42 | 0,98 |
Sumber : Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan Tahun 2010.
Keterangan:
A = Daun Ubi.
B = Daun Kangkung.
C = Tanah Oksisol.
Pengkalibrasian :
*Mencari Kandungan Unsur N
N% = ml Hcl x N Hcl x 14 x 100 / Berat Tanah x 1000
ml Hcl x 0,014
A = 40 x 0,014 = 0,56%
B = 25 x 0,014 = 0,25%
C = 11 x 0,014 = 0,15%
*Mencari Kandungan Unsur P
P (ppm) = P larut x 20/2
A = 0,938 x 20/10 = 9,38
B = 0,643 x 20/10 = 6,43
C = 0,384 x 20/10 = 3,84
Kandungan Unsur K,Ca,Mg dibaca dengan menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spectropmeter).
B. Pembahasan.
Kandungan unsur lebih tinggi terletak pada tanah cacing yang diberi daun ubi.Hal ini dikarenakan daun ubi kayu mengandung protein tinggi yaitu berkisar antara 20,6 – 34,4% (Djamaludin, 1994). Daun ubi kayu mengandung serat kasar sebesar 25,71% (Sudaryanto, 1994). Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengurangi kadar serat kasar dalam daun ubi kayu untuk memperbaiki nilai gizinya.
Daun ubi kayu dapat ditingkatkan nilai gizinya melalui fermentasi, karena fermentasi dapat meningkatkan kecernaan protein, menurunkan kadar serat kasar, memperbaiki rasa dan aroma bahan pakan, serta menurunkan kadar logam berat.Lain daripada itu pemberian makan daun ubi juga dilakukan secara rutin yaitu 2 hari sekali.Hal inilah yang membuat cacing di dalam tanah tersebut dapat berkembang dan menyuburkan tanah yang ditempatinya.
1.Kesimpulan.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa dalam daun ubi mempunyai kandungan unsur kimia yang sangat baik dalam hal pembudidayaan cacing sehingga cacing tersebut juga dapat berkembang dengan baik sehingga dapat menyuburkan tanah.Hal ini tentunya juga didukung oleh factor-faktor lain seperti pemberian makanan yang teratur,kondisi udara yang cukup dan juga air yang cukup.
2.Saran.
Saran dari penulis dalam hal ini adalah bahwa sebaiknya pembudidayaan cacing ini dapat disosialisasikan kepada petani-petani sehingga mereka dapat memiliki tanah yang subur dan menjual pupuk kompos ini dengan harga yang lumayan sehingga menambah pemasukan.
semoga bermanfaat...
jangan lupan koment dan folow ya bos.....