Sabtu, 19 November 2011

Pembudidayaan Cacing Tanah Dengan Pakan Daun Ubi dan Daun Kangkung





1.Pendahuluan.
A. Pengertian Cacing Tanah.
Terdapat sekitar 3000 spesies cacing tanah, tetapi yang cocok dipelihara hanya setengahnya. Setiap jenis cacing tanah memiliki fungsi yang berbeda. Sebagai contoh adalah untuk keperluan pengomposan digunakan cacing tanah dari spesies Eisenia foetida. Cacing jenis ini memiliki kemampuan mengomposkan sampah lebih baik dari pada spesies yang lain (Missouri Department of Natural Resources, 1997). Saat ini cacing tanah telah dinobatkan sebagai hewan multiguna antara lain sebagai bahan baku produk farmasi dan kosmetik.
Cacing tanah dikenal sebagai hewan penyubur tanah. Dalam proses makan mereka mengeluarkan kotoran berbentuk pelet.- pelet ini diselimuti lapisan gel yang menyatukan pelet-pelet menjadi satu kesatuan. Pelet tidak hanya mengubah unsur hara ke bentuk yang mudah diserap akar, tetapi juga berefek slow release. Artinya, unsur hara dilepas secara perlahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Cacing juga memecah bahan organik menjaadi bagian yang lebih kecil. Dengan demikian mikroba tanah memiliki ruang lebih luas untuk aktivitasnya. Mereka juga memproduksi enzim yang mengefektifkan kerja bakteri. Sehingga cacing menyebabkan proses dekomposisi menjadi lebih cepat (Untung, 1999).
B.Pengertian Tanah Oksisol.
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai har atau nutrisi ( senyawa porganik dan anorganik sederhana dan unsur unur esensial seperti N, P,K,Ca, Mg, S, CU, Zn, Fe, Mn, B, Cl dan lain-lain ), dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota ( organisme ) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif ( pemacu tumbuh, proteksi ) bagi  tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk mengehasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industry perkebunan, maupun kehutanan ( Kemas A.H. 2007 ).
Tanah oksisol adalah tanah dengan pelapukan lanjut dan mempunyai horison oksik, yaitu horison dengan kandungan mineral mudah lapuk rendah, fraksi liat dengan aktivitas rendah, kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 16 cmol (+) / kg liat). Tanah ini juga mempunyai batas-batas horison yang tidak jelas. Pembukaan areal pertanian khususnya tanaman pangan di lahan kering ditujukanpada jenis tanah Podsolik Merah Kuning yang menempati 31,7 juta hektar (23,5%) dariluas tanah masam (Leiwakabessy, 1988). Pengembangan tanaman padi ke lahan tersebutdihadapkan pada kendala fisiko-kimia seperti kemasaman tanah (pH 3,5-5,5), kahat hara makro dan mikro, kandungan bahan organik rendah, tingkat kejenuhan Al tinggi, dansangat peka terhadap erosi (Roesmarkam et al., 1992; Sanchez, 1992). Oleh sebab itu.
pengembangan areal pertanian khususnya tanaman pangan hanya diarahkan pada lahan dengan tingkat kemiringan kurang dari 15%..Dari hasil-hasil penelitian padi di lahan kering masam, umumnya pada pH kurang dari 5,5 ketersediaan unsur kalsium (Ca) dan fosfor (P) rendah dan akan muncul masalah keracunan Al. Pada pH 3,5-4,5 sumber utama kemasaman adalah Aldd (Al3+ yang dapat ditukar). Sumber kemasaman terdiri dari Aldd, ion hidroksida dan Hdd (Widjaja-Adhi,1985).
Al terutama ditemukan dalam bentuk oktahedral hexahidrat (Al (H2O) 63+) yang secara konvensional dikenal sebagai ion Al3+ dan sangat berbahaya bagi pertumbuhan akar dan tanaman.
Padi termasuk tanaman yang rentan terhadap keracunan Al. Tingginya kandungan Al berpengaruh buruk terutama terhadap sistem perakaran yang meliputi pertumbuhan akar terhambat, pendek, tebal, percabangan tidak normal, tudung akar rusak dan berwarna coklat atau merah (Ismunadji dan Partohardjono, 1985). Pada tanaman sorghum, pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman pendek, ukuran daun lebih kecil dan berwarna hijau gelap dengan pinggiran daun keunguan atau menjadi kering (Hadiatmi, 2002).
Batas kritis kejenuhan Al di tanah masam oksisol dan Ultisol bervariasi antar spesies yaitu 70% untuk padi, 55% untuk kacang uci, 29% untuk jagung, 28% untuk kacang tanah, 15% untuk kedelai dan 5% untuk kacang hijau (Arief, 1990). Selain itu juga dilaporkan bahwa konsentrasi Al 3 ppm dalam larutan tanah, dapat merusak varietas padi yang rentan terhadap keracunan Al. Sedangkan pada konsentrasi 10 ppm, semua varietas baik yang rentan maupun yang tahan mengalami kerusakan (IRRI, 1979). Pada gandum konsentrasi Al 50 ppm telah menghambat pertumbuhan akar (Rincon dan Gonzales, 1992), pada kedelai konsentrasi Al pada 8 ppm telah menghambat pertumbuhan akar kultivar rentan (Sapra et al., 1982).


C. Pengertian Kascing.
Hasil biodegradasi bahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah dinamakan kascing/vermicompost (Untung, 1999). Kascing tampak seperti tanah kering yang telah digiling dan secara nyata meningkatkan kesuburan tanah (Praswati dan Hidayat, 1992). Menurut Waluyo (1993), komposisi hara kascing yang berasal dari sampah organik adalah 1,60% N-total; 14,79% C-organik; 0,02% P-total; 2,46% Ca; 0,59% Mg; 4,49% karbohidrat; 0,08% lemak; 24,86% protein. Persentase unsur hara pada kascing ini berbeda tergantung dari media dan jenis pakan yang diberikan kepada cacing. Selain mengandung unsur hara tersebut, kascing juga mengandung zat pengatur tumbuh seperti giberelin, sitokinin, auksin masing-masing sebanyak 2,75; 1,05; 3,80 miliequivalen tiap gram bobot kering. Selain itu juga ditemukan sejumlah mikroba yang bersifat menguntungkan bagi tanaman (Tomatti.Grappeli dan Galli, 1998).
Kascing merupakan pupuk organik yang mengandung fitohormon,mikroba dan unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
 Kascing sebagai pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan dapat mempertahankan kestabilan dan aerasi tanah.Selain mengandung unsur hara utama (N, P, K, Mg dan Ca), Kascing juga banyak mengandung mikroba Azotobacter sp. Dengan demikian Kascing dapat meningkatkan kesuburan tanah (Zahid, 1994).
Dengan pemberian Kascing maka diasumsikan mineral dan mikroorganisme yang dapat menyuburkan tanah bertambah sehingga dengan adanya kandungan hara yang tinggi disertai fitohormon tinggi tanaman dapat tumbuh lebih baik dan pertumbuhan vegetatif akan lebih baik pula. Menurut para ahli tanaman yang diberi fitohormon mendorong ukuran tanaman menjadi lebih tinggi karena terjadi pembelahan sel yang lebih banyak dan pengembangan jaringan meristem pada ujung batang dan pada interkalar yang lebih baik.
Kelebihan Pupuk kascing :
Peningkatan pertumbuhan: Pengujian yang ekstensif sudah dilakukan oleh Ohio State University, Cornell University, UC Davis di Amerika, dan Australia SIRO untuk membuktikan hasil dari penggunaan Pupuk Kascing. Pengujian -pengujian tersebut menunjukan peningkatan ukuran bunga, jumlah bunga, kualitas, dan warna. Pengujian pada buah dan sayuran menunjukkan peningkatan dari 15%-57% termasuk peningkatan pada rasa dan bentuk/penampilan.
100% Organik: Komunitas agro sudah menunjukan dukungan terhadap gerakan untuk menuju pertanian non-kimia. Pupuk Kascing sudah dikenal sejak riset Charles Darwin sebagai cara terbaik untuk penyuburan tanah dan tanaman yang sehat.



Tidak Beracun: Semua bahaya yang ditakutkan pada penggunaan pertanian kimia tidak ada pada Pupuk Kascing, karena memang tidak mengandung racun sama sekali.



Tidak panas: karena Pupuk Kascing adalah 100% organik maka tidak mengandung garam yang ditemukan di pupuk sintetik, yang berarti menghilangkan kemungkinan merusak tanaman.



Bebas bau: Pupuk Kascing adalah satu-satunya kotoran hewan yang tidak berbau. Pupuk Kascing berbau seperti tanah sehat yang subur.

Penghilang bau: Pengujian menunjukan bahwa Pupuk Kascing sangat efektif dan cepat dalam menghilangkan bau. Campurkan 20% Pupuk Kascing dengan kotoran sapi, kuda, maupun ayam yang sudah dikomposkan, maka semua bau akan hilang dalam delapan jam.



Penghilang jamur: Riset dan pengujian yang dilakukan empat universitas besar di Amerika sudah menunjukkan bahwa biologi makanan tanah yang terkandung dalam Pupuk Kascing akan dengan cepat mengontrol problem jamur. Dalam beberapa minggu, pada tanaman yang mempunyai masalah dengan jamur akan menunjukkan perbaikan yang permanen. Semua jamur tanah dengan cepat akan terkontrol. Nitrogen yang dilepaskan pada waktu proses ini juga akan membantu dalam pertumbuhan tanaman.



Bio-pestisida: Pengujian juga menunjukkan bahwa mikro-organisme yang dikandung dalam Pupuk Kascing men-stimulasi organisme pada tanaman yang bekerja sebagai pencegah berbagai jenis serangga dengan meningkatkan enzim chitinase. Juga sebagai pencegahan terhadap semut. 
C.Kandungan Dalam Daun Ubi.
Daun ubi kayu mengandung protein tinggi yaitu berkisar antara 20,6 – 34,4% (Djamaludin, 1994). Namun, daun ubi kayu mengandung serat kasar yang tinggi yang membatasi penggunaannya sebagai bahan pakan unggas.
Daun ubi kayu mengandung serat kasar sebesar 25,71% (Sudaryanto, 1994). Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengurangi  kadar serat kasar dalam daun ubi kayu untuk memperbaiki nilai gizinya. Daun ubi kayu dapat ditingkatkan nilai gizinya  melalui fermentasi, karena fermentasi dapat meningkatkan kecernaan protein, menurunkan kadar serat kasar, memperbaiki rasa dan aroma bahan pakan, serta menurunkan kadar logam berat


D.Prosedur Kerja.
Langkah Kerja.
Bahan :          - Media Cacing (8:1) terdiri dari sekam kayu,pupuk kandang sapi dan sedikit pupuk kandang ayam (sebanyak 2 kg).Bibit cacing tanah Lumbrius Rubulus ¼ kg.
-         Baki plastic yang tidak berlubang
-         Rak-rak kayu
-         Karung Plastik
-         Alat Pengaduk
-         Timbangan
-         Karton Penutup Baki
Prosedur Kerja :
1.Menyediakan tempat dalam bentuk rak-rak yang diletakkan di dalam ruangan yang bias masuk udara terbuka,bias di rumah ataupun di bawah pohon besar.
2.Menyiapkan wadah tempat pembiakan cacing.
3.Menyediakan media cacing (sekam kayu.pupuk kandang sapi + pupuk kandang ayam).Media dihancurkan jangan berbengkah sampai homogeny kemudian diaduk rata ke 3 bahan dan ditambah air.
4.Masukkan ke dalam karung plastic di ikat dan ditutup rapat dengan tali lalu dibiarkan 1-2 minggu sampai berubah menjadi hitam (inkubasi selama 20 hari) dan setelah inkubasi karung dibuka.
5.Bila sudah jadi hitam masukkan ke baki sampai sekitar 1 cm dari permukaan.Timbang baki + media,diambil bibit cacing ¼ kg.Media dibagi beberapa dan dibuat lubang lalu dimasukkan bibit cacing dan ditutup lagi tapi jangan terlalu dalam kemudian disiram sedikti dengan air.
6.Taruh di rak-rak dan sebaiknya jangan terbuka agar penguapan lambat.
7.Dibiarkan dan dipelihara dengan pemberian makanan dengan jumlah seberat cacing tersebut.
8.Pemberian makanan dibagi 2 yaitu pemberian makanan daun ubi dan kangkung.
9.Sayuran tak boleh langsung diberikan tetapi harus dibersihkan terlebih dahulu kemudian dicuci bersih lalu direbus sampai matang.Disiapkan sehari sebelum diberikan kepada cacing.
10.Panen dilakukan setelah 3 minggu waktu pemeliharaan.



2.Hasil Dan Pembahasan.
A.Hasil.
Data Hasil Analisis Tanah
Perlakuan
Parameter

Ph
N(%)
P(ppm)
K+ (me/100g)
Ca+ (me/100g)
Mg+ (me/100g)
A
5,71
0,56
9,38
2,07
11,28
2,02
B
6,05
0,35
6,43
1,82
8,36
1,98
C
4,55
0,15
3,84
0,82
3,42
0,98
Sumber : Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan Tahun 2010.
Keterangan:
A = Daun Ubi.
B = Daun Kangkung.
C = Tanah Oksisol.
Pengkalibrasian :
*Mencari Kandungan Unsur N
N% = ml Hcl x N Hcl x 14 x 100 / Berat Tanah x 1000
                                           ml Hcl x 0,014
A = 40 x 0,014        = 0,56%
B = 25 x 0,014        = 0,25%
C =             11 x 0,014       = 0,15%


*Mencari Kandungan Unsur P    
P (ppm)       = P larut x 20/2
A     = 0,938 x 20/10           = 9,38
B     = 0,643 x 20/10           = 6,43
C     = 0,384 x 20/10           = 3,84
Kandungan Unsur K,Ca,Mg dibaca dengan menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spectropmeter).
B. Pembahasan.
Kandungan unsur lebih tinggi terletak pada tanah cacing yang diberi daun ubi.Hal ini dikarenakan daun ubi kayu mengandung protein tinggi yaitu berkisar antara 20,6 – 34,4% (Djamaludin, 1994). Daun ubi kayu mengandung serat kasar sebesar 25,71% (Sudaryanto, 1994). Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengurangi  kadar serat kasar dalam daun ubi kayu untuk memperbaiki nilai gizinya.
Daun ubi kayu dapat ditingkatkan nilai gizinya  melalui fermentasi, karena fermentasi dapat meningkatkan kecernaan protein, menurunkan kadar serat kasar, memperbaiki rasa dan aroma bahan pakan, serta menurunkan kadar logam berat.Lain daripada itu pemberian makan daun ubi juga dilakukan secara rutin yaitu 2 hari sekali.Hal inilah yang membuat cacing di dalam tanah tersebut dapat berkembang dan menyuburkan tanah yang ditempatinya.



1.Kesimpulan.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa dalam daun ubi mempunyai kandungan unsur kimia yang sangat baik dalam hal pembudidayaan cacing sehingga cacing tersebut juga dapat berkembang dengan baik sehingga dapat menyuburkan tanah.Hal ini tentunya juga didukung oleh factor-faktor lain seperti pemberian makanan yang teratur,kondisi udara yang cukup dan juga air yang cukup.
2.Saran.
Saran dari penulis dalam hal ini adalah bahwa sebaiknya pembudidayaan cacing ini dapat disosialisasikan kepada petani-petani sehingga mereka dapat memiliki tanah yang subur dan menjual pupuk kompos ini dengan harga yang lumayan sehingga menambah pemasukan.

 ***SEKIAN DAN TERIMA KASIH****
semoga bermanfaat...
jangan lupan koment dan folow ya bos.....




Deskripsi Wilayah Medan Belawan




DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
A.       Kondisi Fisik Wilayah Penelitian
1.        Letak dan keadaan geografis
Kelurahan Belawan I merupakan salah satu dari Kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Belawan, berada pada ketinggan 1 m dari permukaan laut, dengan temperatur suhu antara 32°C, iklim tropis yang dipengaruhi oleh musim hujan dengan rata-ra 2600 mm pertahun.
Jarak dari Kelurahan terjauh ke pusat Pemerintah Kecamatan ± 1 Km dengan waktu tempuh ± 0,2 Jam, sedangkan ke Ibukota Medan ± 26 Km dengan waktu tempuh ± 1 Jam.
2.        Batas Wilayah
Adapun  batas-batas Kelurahan Belawan I sebagai berikut:
·         Sebelah Utara berbatasan dengan Hamparan Perak
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Belawan II
·         Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Belawan Bahagia
·         Sebelah Timur berbatasan dengan Laut

3.        Tofografi dan Bentang Lahan
Tabel 1
Tofografi dan Bentang Lahan
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Bentang Lahan
Luas (Ha)
1
Dataran
110 Ha
2
Perbukitan/ Pegunungan
-

Jumlah
110 Ha
Sumber : profil kelurahan, 2006
4.        Jenis Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan dapat diartikan sebagai upaya pemanfaatan lahan untuk kepentingan masyarakat. Penggunaan lahan ni di pengaruhi oleh campur tangan manusia dan erat kaitannya dengan perencanaan yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah. Wilayah Kelurahan Belawan I memiliki tata guna tanah seperti dalam tabel berikut :
 
Tabel 2
Penggunaan Lahan
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Penggunaan
Luas (ha)
1
Pemukiman


a. Pemukiman Pejabat Pemerintah
 26

b.                  Pemukiman ABRI
-

c. Pemukiman Real-Estate
-

d.                  Pemukiman KPR-BTN
-

e.                  Pemukiman Umum
44
2
Untuk Bangunan


a. Perkantoran
7

b.                  Sekolah
2

c. Pertokoan /Perdagangan
3

d.                  Pasar
1

e.                  Terminal
-

f.  Tempat periadatan (masjid, gereja, pura, vihara, dll)
3

g. Kuburan/makam
1

h.                  Jalan
7

i.  Lain-lain
6
3
Pertanian Sawah


a. Sawah Pengairan teknis(irigasi)
-

b.                  Sawah pengairan setengah teknis
-

c. Sawah tadah hujan
-

d.                  Sawah pasang surut
-

JumlahLuas Sawah
-
4
Ladang/ tegalan
-
5
Padang rumpu/stepa/lading gembala/ pangonan
-
6
Rekreasi dan Olahraga


a. Lapangan sepak bola
1

b.                  Lapangan bola volley/basket
2

c. Lapangan golf
-

d.                  Taman rekeasi
-

e.                  Lain-lain
-

Jumlah luas tempatrekreasi dan olahraga
1
7
Perikanan darat/air tawar


a. Tambak
-

b.                  Kolam
-

c. Empang/tebat
-

Jumlah las perikanan
-
8
Daerah tangkapan air
-
9
Rawa
-
10
Lain-lain


a. Tanah kritis/tandus
-

b.                 Padang ilalang
-
Jumlah Luas Seluruhnya

Sumber : profil kelurahan, 2006




B.       Kondisi Non Fisik
1.        Jumlah Penduduk
Penduduk merupakan modal dasar pembangunan suatu daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki baik ditinjau dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Potensi ini akan menjadi kekuatan besar dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki, pada akhirnya akan mempercepat proses pembangunan. jumlah penduduk Kelurahan Belawan I adalah 21.783 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 3.666 KK.
2.        Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur
Komposisi penduduk menurut umur sangat perlu diketahui, karena berdasarkan komposisi tersebut dapat diketahui jumlh penduduk usia poduktif sehingga dapat diketahui besar kecilnya angka ketergantungan. Di Kelurahan Belawan I  komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3
Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Golongan Umur
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki
perempuan
1
0-12 bulan
121
104
225
2
13 bulan-4 tahun
709
620
1329
3
5-6  tahun
666
650
1316
4
7-12 tahun
1601
1600
3201
5
13-15 tahun
1633
1611
1244
6
16-18 tahun
194
188
382
7
19-25 tahun
168
159
327
8
26-35 tahun
177
168
345
9
36-45 tahun
164
142
306
10
46-50 tahun
101
99
200
11
51-60 tahun
122
106
228
12
61-75 tahun
155
157
312
13
Lebih dari 76 tahun
5805
4563
12368

Jumlah
11616
10167
21783
Sumber : profil kelrahan, 2006
3.        Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama
Setiap daerah memiliki masyarakat yang menganut agama atau kepecayaan yang cenderung berbeda. Demikian juga di Kelurahan Belawan I  ini juga terdapat berbagai pemeluk agma yang dapat di sajikan dalam tabel berikut :
Tabel 4
Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Agama
Jumlah (orang)
1
Islam
10.023
2
Kristen
2.751
3
katolik
622
4
Budha
2.947
5
Hindu
7
Sumber: profil Kelurahan, 2006

4.        Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk suatu daerah cenderung bervariasi. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti poensi sumber daya alam keahlian dan tingkat pendidikan serta kebudaaan setempat. Demikian juga halnya di Kelurahan Belaan I,untuk mengetahui persentase variasi matapencaharian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5
Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Sub Sector Pertanian Tanaman Pangan
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Status
Jumlah(orang)
1
Pemilik tanah sawah
8
2
Pemilik tanah tegal/ladang
10
3
Penyewa/ penggarap
-
4
Penyakap
-
5
Buruh tani
-

jumlah
18
Sumber : profil klurahan, 2006




Tabel 6
Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Subsector Perikanan / Kenelayanan
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Status
Jumlah (orang)
1
Pemilik  kapal
-
2
Pemilik perahu/ sampan
60
3
Pemilik/ penanam rumput laut
-
4
Pemilik kolam
-
5
Pemilik tambak
-
6
Pemilik keramba/ sejenisnya
-
7
Buruh perikanan/ kenelayanan
142
8
Lain-lain
-

jumlah
202
Sumber : profil kelurahan, 2006
Tabel 7
Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Subsector Industry
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Status
Jumlah (orang)
1
Jumlah pemilik usaha industry rumah tagga
5
2
Jumlah pemilik usaha industry besar
9
3
Jumlah pemilik usaha industry sedang
12
4
Jumlah buruh Industri
304

Jumlah
330
Sumber : profil kelurahan,2006


Tabel 8
Komposisi Penduduk Berdasarkan MataPencaharian
Sektor Jasa/ Perdagangan
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Status/ jenis jasa/ perdagangan
Jumlah (orang)
1
Jasa pemerintahan/ nonpemerintahan


a.    Pegawai Negeri Sipil


1)    Pegawai kelurahan
4

2)    Guru
32

3)    PNS/ABRI
436

4)    Mantri kesehatan/perawat
14

5)    Bidan
7

6)    Dokter
8

7)    PNS lainnya
35

b.    Pensiunan ABRI/ Sipil
245

c.     Pegawai swasta
515

d.    Pegawai BUMN/BUMD
250

e.    Pensiunan swasta
477
2
Jasa lembaga-lembaga keuangan


a.     Perbankan
1

b.     Perkreditan rakyat
-

c.      Pegadaian
-

d.     Asurans
-
3
Jasa perdagangan


a.    Warung
35

b.    Kios
37

c.     Toko
45
4
Jasa penginaan


a.    Losmen
1

b.    Hotel
1

c.     Wisma/mess
1

d.    Asrama/pondokan
-
5
Jasa komunikasi dan angkutan


a.    Angkuta tak bermotor
125

b.    Angkuta sepeda motor
35

c.     Mobil kendaraan umum
25

d.    Perhu/ketinting
75

e.    angkutan laut/motor tempel
-

f.     Apal motor laut (KM)
-
6
Jasa hiburan


a.    Biosko
2

b.    Sandiwara
-

c.     Pemutara film keliling
-
7
Jasa pelayanan hokum dan nasihat


a.    Notaries
2

b.    Pengacara
-

c.     Konsltan
-
8
Jasa keterampila


a.    Tukang kayu
17

b.    Tukang batu
25

c.     Tukang jahit/ bodir
18

d.    Tukang cukur
17
9
Jasa lainnya


a.    Listrik, gas, air
28

b.    Jasa persewan
9

jumlah
2045
Sumber : profi kelurahan, 2006



C.       Kondisi Sarana dan Prasarana
1.        Sarana Pendidikan dan Ibadah
Ketersediaan sarana pendidikan tidak boleh diabadikan dalam suatu daerah tertentu, karena akan menjadi indikasi terhadap maju tidaknya daerah tersebut sesuai dengan kualitas Sumber Daya Manusia yang diperoleh dari pendidikan tadi. Demikian halnya sarana ibadah untuk memenuhi kebutuhan rohaniah masyarakat sekaligus sebaga kontrol sosial dalam kehidupa bermasyarakat. Kondisi sarana pendidikan dan ibadah di kelurahan Belawan I dapat dilihat pada tabelberikut :
Tabel 9
Sarana Pendidikan
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Prasarana
Jumah (Buah)
1
TK
3
2
SD
11
3
SLTP
2
4
SLTA
1
5
PT/Akademi/Universitas
-
Sumber : profil kelurahan, 2006
Tabel 10
Sarana Ibadah
Di Kelurahan Belawan I Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2006
No
Jenis sarana Ibadah
Jumlah
1
Masjid
6
2
Langgar
10
3
Gereja
4
4
Vihara
1
Sumber : profil kelurahan, 2006


***SEKIAN DAN TERIMA KASIH***
semoga bermanfaat...
jangan lupa komentarnya ya bos.....
^_^